Selasa, 20 Juli 2010

Kelainan Tubuh Tak Membatasi Mimpinya


Edy Mulyadi lahir di Subang, 40 tahun lalu, tanggal 9 Februari dari ayah bernama Abdullah dan ibu bernama Sumanah. Ia anak keempat dari tujuh bersaudara. Sejak lahir, Edy menderita kelainan pada tubuhnya. Kerangka tulangnya terlihat tidak proporsional. Ketika beranjak dewasa, pertumbuhan tubuh Edy pun tidak sama dengan anak-anak lainnya. Ia sedikit bongkok dengan tulang dada menonjol. Tinggi badannya pun hanya rata-rata sedada orang dewasa.

Walau mengaku sering mendapat ejekan dan pandangan heran dari orang lain karena penampilannya, Edy mengaku tak peduli. Menurut dia, kelainan pada tubuhnya bukanlah halangan untuk melakukan apa yang ia inginkan. Ia tetap percaya diri dan yakin bahwa dirinya memiliki kemampuan yang tidak berbeda dengan orang bertubuh normal lainnya.


“Saya dan orang lain sama-sama manusia. Sama-sama makan nasi. Tidak ada bedanyalah. Jadi kenapa kalau orang lain bisa saya tidak,” ungkapnya sambil tersenyum.


Dibalik sosoknya yang kecil, Edy menyimpan cita-cita besar. Ia ingin menjadi guru dan mengabdikan dirinya bagi kemajuan insan. Keinginan ini timbul dari rasa kagum terhadap sosok ayahnya yang juga pendidik, juga keinginannya untuk menghasilkan generasi yang cerdas dan beretika. Untuk itu, ia pun menghasilkan prestasi sebagai hasil ketekunannya, antara lain menjadi juara 2 tingkat kecamatan Lomba Ilmu Pengetahuan Alam dan peringkat 7 di kabupaten.


Sayangnya, cita-cita tersebut sempat dirasa kandas ketika ia lulus SMU. Orang tuanya yang hanya bekerja sebagai guru tidak mampu membiayai pendidikannya ke universitas. Edy merasa sangat kecewa. Syukurlah, sekitar tahun 1998, Edy diterima sebagai tenaga honorer di sebuah TK/TPA.


Edy mengaku sangat menikmati kegiatannya mengajar. Walau ada murid-muridnya yang terkadang suka menertawakan bentuk tubuhnya, Edy tak berkecil hati. Baginya, itu hanya sikap anak kecil yang belum mengerti. Dan pada akhirnya, Edy berhasil membuktikan kesabarannya dengan menjadi guru favorit.


Kepandaian Edy dalam mengajar rupanya menarik hati Kepala Sekolah SDN Sagalaherang IV. Sekolah terfavorit di kecamatan Sagalaherang tersebut merekrutnya sebagai tenaga pengajar. Tentu saja, Edy pun menerimanya tanpa ragu. Belakangan, sebuah sekolah tsanawiyah pun merekrut dirinya.


Tercapainya cita-cita tidak membuat Edy berhenti bermimpi. Ia tidak ingin menjadi tenaga pengajar biasa. Edy berusaha meningkatkan keterampilannya. Di kala senggang, ia berlatih rebana dan tarian-tarian Islami. Bahkan, ia juga mencoba berlatih tarian modern.


“Banyak yang tidak menyangka saya bisa tarian modern juga kalau melihat tubuh saya. Tapi saya coba mempelajarinya juga,” ucap Edy sambil tertawa.


Kemampuan yang didapat dari hasil belajar secara otodidak itu pun berhasil dibuktikan. Edy kini sering diminta untuk mengajari ibu-ibu dan anak-anak, bukan hanya di kecamatan Sagalaherang, tetapi juga di Kecamatan Sandangpanjang. Walau sudah lama mengabdi sebagai pengajar, Edy mengaku tidak terlalu berharap diangkat jadi PNS karena ia sadar bahwa dirinya hanya lulusan SMA. Namun Edy tidak mampu menutupi kekecewaannya bahwa guru honorer masih kurang diperhatikan, termasuk dalam hal pelatihan. Oleh karena itu, saat mendengar Dompet Dhuafa (DD) Bandung mengadakan program diklat gratis untuk guru honorer dan sukarelawan bertajuk Myteacher, Edy pun semangat untuk bergabung. Ia terlihat antusias mengikuti pelatihan yang diadakan selama 3 hari oleh trainer yang juga berprofesi sebagai guru honorer.


“Acaranya seru. Materinya juga penting sekali untuk menambah kemampuan mengajar di kelas, khususnya materi mengenai Quantum Teaching dan Media Pembelajaran.” ungkap Edy.


Edy mengaku sangat senang karena merasa adanya perhatian dari DD Bandung terhadap guru honorer seperti dirinya. Ia berharap, dengan mengikuti pelatihan ini maka selain dapat meningkatkan kuaitas dirinya, ia juga dapat mengajar dengan suasana lebih menyenangkan dan materinya akan mudah dimengerti oleh murid-muridnya.
(dey irfani)